Korban Berjatuhan Akibat Perang Armenia - Azerbaijan



Perang antara pasukan militer Armenia dan Azerbaijan sudah memasuki hari keempat. Kontak Militer tetap terjadi kendati para pemimpin dunia telah menyerukan untuk kedua bela pihak menahan diri, dan menyerukan mengakhiri konfik apalagi di tengah masa pandemi covid-19 ini.

Terdengar beberapa ledakan di daerah stepanakert, Azerbaizan pada hari rabu (30/09) tengah malam dan sirine di bunyikan. Para penduduk dan media setempat mengatakan bahwa kota itu diserang menggunakan drone kendati belum terbukti kebenaranya.

Indonesia sendiri telah menyerukan untuk kedua belah pihak untuk menghentikan pertempuran dan segera melakukan perundingan secara damai dengan hukum internasional dibawah PBB melalui Kementrian Luar Negeri.

Pecahnya Perang Armenia dan Azerbaijan ditengarai oleh perebutan wilayah sengketa bernama Nagormo - Karabakh. Melalui Duta Besar Armenia untuk Moskow telah memberikan statmen yang mencengangkan yakni mengatakan Turki mengirim 4.000 pejuang Suriah untuk mendukung pasukan Azerbaijan, hal itu dapat menjadi eskalasi yang sangat serius dan sangat mengancam efek dampak yang meluas.

Azerbaijan juga telah menepi tuduhan kepada negaranya atas penggunaan anggota militer negara lain, hal tersebut tidak masuk diakal dan tidak berdasar ucap Hikmat Hajiyev seorang penasihat Presiden Azerbaijan. 

Saat ini korban tewas akibat perang tersebut sudah mencapai 100 tewas, dan beberapa mobil militer rusak serta kerusakan akibat rumah yang hancur. Sampai saat ini belum ada upaya untuk kedua belah negara untuk rencana melakukan perundingan apapun.