Medan, Sihanouknewpost - Sebuah laporan dugaan penyiksaan terhadap para aktivis yang dipenjara sebagai tahanan politik telah dilecehkan secara seksual, disiksa dan meninggal di penjara Arab Saudi.

Studi tersebut di kemukakan melalui media The Independent, dan menuduh bahwa sekitar 309 tahanan politik di sana telah mengalami pelanggaran hak asasi manusia sejak Mohammed bin Salman menjadi Putra Mahkota kerajaan 2017.

Grant Liberty, sebuah badan amal Hak Asasi Manusia yang melakukan penyelidikan itu mengatakan orang telah menghadapi kematian atas apa yang tidak mereka perbuat.

Para aktivis badan amal tersebut mengatakan 20 narapidana telah ditangkap dengan dugaan kejahatan politik, 5 narapidana sudah di eksekusi mati, dan 13 sedang menghadapi eksekusi mati.

Aktivis hak asasi perempuan Arab Saudi, Loujain Al-Hathloul, yang saat ini dipenjara melakukan mogok makan, sudah memasuki hari ke -23. Ia mengatakan bahwa dia disiksa dan mengalami pelecehan seksual di dalam penjara.

Adik perempuan Loujain mengatakan "Kakak saya adalah seorang aktivis hak-hak perempuan, pemenang penghargaan, dan masuk nominasi penghargaan Nobel"

"Kecuali Arab Saudi tidak menghargai dia, dia disiksa, dipenjara keamanan maksimum. Tidak hanya itu, ia mengalami pelecehan seksual serta di rendahkan hata martabatnya" Ucapnya

Organisasi Hak Asasi Manusia mengatakan Loujain telah menanggung siksaan termasuk sengatan listrik, cambukan dan pelecehan sesksual di dalam penjara.

Saat itu Loujain mengkampanyekan untuk memenangkan Hak perempuan Saudi untuk bisa mengemudi, namun ditangkap bersama 10 Aktivis Perempuan lainnya.

Saat ini Loujain sedang menunggu proses persidangan atas tuduhan memberi informasi dengan badan  asing yang bermusuhan dengan Saudi, Merekrut pegawai pemerintah untuk mendapatkan informasi data rahasia, memberikan akses dan dukungan keuangan kepada entitas di luar negeri.