Medan, Sihanouknewpost - Pengakuan dari tentara Myanmar yang berhasil di himpun namun tidak disebutkan namanya oleh beberapa media sosial menyebutkan mereka mulai diperintah untuk membunuh warga sipil yang dicurigai mengikuti demo menentang aksi kudeta.
Situasi yang tidak kunjung kondusif memaksa mereka tidak bisa berbuat banyak terhadap perintah tersebut karena kawatir akan sejumlah keluarga mereka akan dituduh sebagai pembangkang sipil dan akan bisa suatu saat di berikan tindakan keras ataupun di tangkap.
"Itu situasi yang kami hadapi sekarang, pada dasarnya seluruh tentara yang tinggal di kompleks militer sudah dalam kondisi telah di tawan". Mereka menggunakan anggota keluarga sebagai alat untuk mengawasi para tentara untuk melakukan tugas sesuai yang diiginkan Junta Militer.
Meski kekawatiran itu selalu muncul di benak para tentara namun ada sejumlah perwira militer yang berani dan nekat lari dari tugas tersebut. Mereka melawan untuk tidak bertugas di bawah rezim yang sejauh ini telah membawa bencana dan menewaskan setidaknya 700 orang.
Seorang Kapten yang tidak ingin disebutkan identitasnya bertugas di Unit infanteri Batalion 528 negara bagian Shan, mengatakan hampir seluruh prajurit tidak nyaman dengan pemerintahan Junta Militer.
"Mereka tau ini tidak adil, dan tidak manusiawi, tetapi mereka harus tetap menjaga keluarganya".
Beberapa prajurit yang telah membelot memilih bersembunmyi di basis milisi etnis yang ikut berjuang membela rakyat sipil, dan diperkirakan 75% prajurit lainnya akan ikut bergabung setelah memastikan keamanan keluarga mereka terjamin.
Keluarga tentara dibatasi untuk keluar dan hanya bisa setiap siang hari dan itupun harus didampingi, hal ini semakin di perburuk setelah ada beberapa militer yang membelot.

0 Komentar